Gelembungkan Suara, Pengurus KPUD Tangerang Jadi TersangkaBesan SBY Hadapi Tuntutan Kasus KorupsiDemokrat : Yudhoyono Tak Didikte Partai ManapunKrisis Ambalat, Warga Sebatik Mulai Berlatih MenembakPemerintah Dinilai Kehilangan Akal Tangani Lumpur Lapindo
SUARA WARGA
Trayek Angkot Diserobot Angkutan Plat Hitam Oleh Hilman Saya menulis mewakili teman-teman Paguyuban Pengemudi Angkutan Jetak Kaliwungu (PAJAK) Kudus Jawa Tengah yang selalu merasa resah, sedih, emosi. Trayek angkutan yang menjadi mata pencaharian kami tidak jelas peruntukannya. Saling serobot.
Apa lagi yang sebenarnya bisa dilakukan oleh pers, ketika informasi — dalam realitasnya — telah menjadi milik publik? Pada sekitar dua dekade sebelum ini, para pekerja media mungkin masih bisa berbangga bahwa ”informasi adalah kekuatan”. Namun ketika yang dibanggakan sebagai
Konflik pers dengan penegak hukum tidak dapat dicegah karena tiap pihak merasa memiliki keterdekatan dengan kebutuhan manusia, yang ingin diperankan masing-masing.
PERS adalah ”mata, telinga, dan hati” publik. Melalui pemberitaan media massa (pers), publik di berbagai sudut planet bum
06/12/2008 22:33 wib - Nasional Aktual Greenpeace Pimpin Aksi Iklim di Jakarta
Jakarta, CyberNews. Lebih dari seribu anak muda yang tergabung dengan Solar Generation, gerakan pemuda Greenpeace menggelar aksi perubahan iklim di Jakarta, Sabtu (6/12). Jutaan orang di seluruh dunia berpartisipasi dalam demonstrasi yang bertepatan dengan pertemuan iklim PBB yang sedang berlangsung di Poznan, Polandia.
Solar Generation dan Greenpeace menyerukan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengarahkan delegasi Indonesia di pertemuan PBB di Polandia tersebut untuk membuat komitmen mengurangi emisi secara drastis akibat deforestasi dan menepati janji yang dibuatnya pada pertemuan G8 di Jepang.
Indonesia adalah pengemisi karbon dioksida ketiga terbesar di dunia, dimana sebagian besar berasal dari penghancuran lahan gambut dan hutan. Presiden Yudhoyono membuat komitmen tahun ini dalam pertemuan G8 di Hokkaido, Jepang untuk memangkas emisi karbon dari deforestasi sebanyak 50% pada tahun 2009, 75% pada tahun 2012 dan 95% pada tahun 2025.
"Setahun telah berlalu sejak para kepala negara yang bertemu di Bali berjanji untuk sepakat dalam menyelamatkan iklim pada tahun 2009. Ini berarti hanya tinggal satu tahun lagi waktu untuk bersepakat menghentikan krisis iklim. Di Poznan, kami rasa sudah waktunya para pemimpin negara menghentikan pembicaraan-pembicaraan berkepanjangan, mulai menunjukkan keseriusan dan segera memulai negosiasi. Langkah pertama bagi delegasi Indonesia adalah mewujudkan janji Presiden SBY untuk menghindari perubahan iklim yang kebablasan. Mari berinvestasi untuk masa depan bersama yang lebih baik," kata Galih Aji Prasongko, Koordinator Solar Generation Greenpeace, dalam siaran pers yang diterima Suara Merdeka CyberNews, Sabtu (6/12).
Dijelaskan, Konferensi Badan Perubahan Iklim PBB atau The United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC) di Bali (COP13) mengeluarkan mandat untuk sebuah kesepakatan Kyoto-plus dan sebuah komitmen untuk memperbaiki masalah-masalah dalam UNFCCC. Greenpeace mendorong agar kesepakatan Kyoto-plus menempatkan keselamatan manusia sebagai prioritas dari upaya menjaga agar kenaikan suhu global tetap di bawah 2 derajat.
"Penghancuran hutan mengakibatkan kerugian pada ekonomi dunia paling tidak 2 trilyun dolar pertahunnya. Kekeringan dan kebakaran hutan menghancurkan sumberdaya planet kita yang sangat berharga dan kenaikan permukaan air laut akan menggusur ratusan juta orang pada akhir abad ini. Di balik semua kabar buruk itu, masih ada kabar baik, yaitu untuk menghindari terlambatnya penanganan perubahan iklim, dunia harus menghentikan kecanduannya terhadap batubara dan penghancuran hutan. Kami perlu investasi bagi energi yang bersih, terbarukan dan menghentikan subsidi bagi energi kotor dan berbahaya seperti batubara dan nuklir," paparnya.