Gelembungkan Suara, Pengurus KPUD Tangerang Jadi TersangkaBesan SBY Hadapi Tuntutan Kasus KorupsiDemokrat : Yudhoyono Tak Didikte Partai ManapunKrisis Ambalat, Warga Sebatik Mulai Berlatih MenembakPemerintah Dinilai Kehilangan Akal Tangani Lumpur Lapindo
SUARA WARGA
Trayek Angkot Diserobot Angkutan Plat Hitam Oleh Hilman Saya menulis mewakili teman-teman Paguyuban Pengemudi Angkutan Jetak Kaliwungu (PAJAK) Kudus Jawa Tengah yang selalu merasa resah, sedih, emosi. Trayek angkutan yang menjadi mata pencaharian kami tidak jelas peruntukannya. Saling serobot.
Apa lagi yang sebenarnya bisa dilakukan oleh pers, ketika informasi — dalam realitasnya — telah menjadi milik publik? Pada sekitar dua dekade sebelum ini, para pekerja media mungkin masih bisa berbangga bahwa ”informasi adalah kekuatan”. Namun ketika yang dibanggakan sebagai
Konflik pers dengan penegak hukum tidak dapat dicegah karena tiap pihak merasa memiliki keterdekatan dengan kebutuhan manusia, yang ingin diperankan masing-masing.
PERS adalah ”mata, telinga, dan hati” publik. Melalui pemberitaan media massa (pers), publik di berbagai sudut planet bum
10/09/2008 07:20 wib - Nasional Aktual Djoko Edhi Pukul Bahrudin
Buntut Jual-Beli Nomor Urut Caleg PPP
Jakarta, CyberNews. Kasus jual-beli kursi caleg berbuntut panjang. Syuting acara salah satu tv swasta semalam pun kisruh. Acara pengambilan gambar di Wisma Nusantara Jalan M Thamrin Jakarta itu diwarnai aksi pukul antara mantan politikus PAN Djoko Edhi Abdulrahman dan politikus PPP Bahrudin Dahlan.
Sebelum acara tersebut, Djoko Edhi dan Bahrudin sudah saling serang. Bahrudin menyebutkan Djoko Edhi menjadi calo kursi caleg di PPP. Merasa difitnah, Djoko Edhi meminta perhitungan kepada Bahrudin.
Djoko Edhi yang kini mendaftar sebagai caleg PPP itu tiba di lobi Wisma Nusantara pukul 20.15. Tak Lama kemudian, Bahrudin yang beralih menjadi caleg PAN tiba di tempat sama pada pukul 20.30.
Tanpa basa-basi, Djoko Edhi langsung memukul kepala Bahrudin yang sedang bersalaman dengan beberapa orang. Djoko menghunjamkan delapan pukulan ke kepala Bahrudin.
Bahrudin yang baru saja dipukuli tidak berkomentar apapun. Sambil memegangi kepalanya, Bahrudin keluar dari lobi gedung. Kru televisi dan beberapa wartawan yang berada di lokasi langsung memisahkan keduanya. Djoko Edhi dibawa kru ke sebuah ruangan, sementara Bahrudin langsung diamankan ke luar gedung.
Selanjutnya, format acara tv tersebut diubah. Acara yang seharusnya dimulai pukul 21.00 itu molor sekitar 10 menit. Bahrudin akhirnya tidak dihadirkan dalam acara tersebut namun hanya melalui telepon.
Dalam sesi pertama, Djoko Edhi masih belum bisa mengendalikan emosinya. Dia terus mengumpat kepada Bahrudin yang diwawancara melalui telepon.
"Tidak ada ampun untuk orang yang zalim. Masak saya dituduh jual nomer caleg," katanya. "Kalau dituduh terima Rp 250 miliar sih nggak apa-apa, lha ini cuma Rp 250 juta," ujarnya.
Presenter acara Grace Natalia yang memandu acara pun berusaha menenangkan Djoko. Namun hal itu tidak digubris oleh Djoko. Ditantang soal bukti jual-beli nomor urut caleg, Bahrudin mengaku punya bukti. "Saya punya buktinya, saya punya saksi. Tapi saya tidak akan mengatakan sekarang. Nanti saja di pengadilan," jawab Bahrudin.
"Kalau begitu, nanti malam bawa orang itu ke saya," kata Djoko Edhi lagi. Tak mau kalah, Bahrudin pun ganti mengancam Djoko Edhi. "Masa lalu Anda itu sudah di tangan saya, Anda jangan ancam-ancam saya," katanya. Mendengar itu, Djoko Edhi hanya tertawa-tawa. "Ah hebat sekali Anda," katanya.
Usai acara tersebut, Djoko langsung mengadukan Bahrudin ke Polda Metro Jaya. Didampingi dua stafnya, dia membawa bukti berita yang berisi tuduhan Bahrudin soal calo nomor caleg di PPP.
Bahrudin juga melaporkan kasus penganiayaan tersebut ke Mapolres Jakarta Pusat. Dia menjelaskan kronologi kasus pemukulan itu. Tak lama kemudian dia menuju ke RSCM untuk menjalani proses visum atas pukulan di kepalanya.