Gelembungkan Suara, Pengurus KPUD Tangerang Jadi TersangkaBesan SBY Hadapi Tuntutan Kasus KorupsiDemokrat : Yudhoyono Tak Didikte Partai ManapunKrisis Ambalat, Warga Sebatik Mulai Berlatih MenembakPemerintah Dinilai Kehilangan Akal Tangani Lumpur Lapindo
SUARA WARGA
Tokek dan Perang Dunia Oleh Davied Hendra Tokek memang sedang naik daun, masyarakat bukan saja memperbincangkan namun juga memburunya sampai ke hutan dan berbagai tempat. Ada yang hanya iseng, ada juga yang ingin mendapat uang banyak dan banyak juga yang menggeluti secara serius.
Haru Biru Kado Ultahku Oleh salimisme Selepas sholat Subuh di pagi yang cerah itu, aku dan beberapa kawanku sudah merencanakan sesuatu untuk mengisi kegiatan keluar komplek minggu ini. Kebetulan minggu ini kami mendapat giliran keluar komplek.
Semalam aku, Indra dan Dewi sudah merencanakan perjalanan kali ini.
Diawali dengan kegiata
Pendidikan berorientasi lapangan kerja belakangan menjadi perhatian masyarakat, seiring dengan fakta besarnya jumlah pengangguran, yang pada 2010 mencapai 7,6% atau 9,26 juta jiwa, 10% di antaranya sarjana. Data mengindikasikan, makin tinggi pendidikan makin tinggi tingkatan pengangguran. Orientasi
Kami dari warga RW II Kelurahan Tambakaji, Ngaliyan, Kota Semarang, ingin menanggapi pernyataan Sekda Jateng Hadi Prabowo tentang ‘’Pengadaan Tanah RSUD Tugurejo Bermasalah’’ yang dimuat di Suara Merdeka terbitan 8 Juli 2010.
Dikatakan oleh beliau bahwa telah terjadi selis
04/09/2008 21:25 wib - Daerah Aktual Batik Dua Sisi Raih Rekor Muri
Natalia Sri Nansih (kanan) dan Ignatius Hermawan memperlihatkan batik cap dua sisi yang sama sempurna yang diproses Duplex Printing di hadapan Manajer MURI Paulus Pangka. (Foto Maulana M Fahmi)
Semarang, CyberNews. Mampu menciptakan batik dengan dua sisi sama presisi untuk yang pertama kali di Indonesia, bahkan didunia membuat Ir Ignatius Hermawan dianugerahi penghargaan dari Museum Rekor Indonesia (Muri). Melalui Manajer Muri Paulus Pangka penghargaan rekor ke 3378 diberikan di Gedung Muri Jl Perintis Kemerdekaan Semarang, Kamis (4/9).
Bagi Ir Ignatius Hermawan (51), batik memang tak bisa lepas dari kehidupannya sehari-hari. Sejak kecil, pria bernama asli Liem Pek Liong sudah terbiasa melihat proses membatik dari kerajinan batik yang dirintis orang tuanya. Anak pasangan Lim Tjie Liang dan Lie Siok Lee ini sejak kecil sudah mulai belajar membatik membantu orang tuanya di usaha batik cap di Jl Karet Peduren Jakarta Selatan, empat puluh tahun silam.
Namun, karena keprihatinannya dengan cara membatik tradisional yang dirasa sangat lamban untuk memenuhi kebutuhan pesanan yang dituntut serba cepat, ia pun mulai berambisi untuk menciptakan inovasi. Dari tahun 1981, terbersit dalam benaknya untuk menciptakan batik dengan dua sisi (sisi luar dan dalam) yang tidak bisa dibuat secara tradisional dengan canting (batik tulis).
Demi mewujudkannya, dari tahun ke tahun ia pun melakukan percobaan dan penelitian. Dari cara teknik membatik dua sisi hingga penciptaan mesin membatik yang canggih. Karena ia sadar, percuma kita bisa menciptakan batik yang bagus dan berkualitas jika nantinya tidak bisa memenuhi permintaan pemesanan karena untuk membatik tradisional dibutuhkan waktu 3-6 bulan.
Untuk itu ia memutuskan menggunakan teknik cetak untuk dua muka kain dalam membatik (duplex printing). Dari tahun 1981 hingga 2006 baru ia menemukan teknik dan penciptaan mesin membatik secara duplex printing yang sempurna dan belum ada yang menyamai hasil karyanya. Kain yang dibatik dengan printing dua sisinya tersebut sama persis dan tidak geser (presisi).
"Batik kami mempunyai motif dua sisi yang sama presisi, dan ini tidak dimiliki batik lain. Inovasi ini saya dapat sejak penelitian dan percobaan inovasi-inovasi baru sejak 25 tahun silam. Tak hanya itu kami berhasil juga menciptakan mesin printing batik yang canggih dan bisa mencetak presisi," ujarnya.
Hingga kini, suami dari Natalia Sri Nansih mampu mencetak batik kain dengan berbagai motif dari motif Pekalongan, Madura, Lasem Yogya, Cirebonan dan batik kombinasi lainnya yang totalnya ada sekitar 20 motif. Ukurannya pun kini beragam, dari 60x120 cm hingga 120x2,20 cm. Adapun keunggulan dari batiknya adalah kerapihannya yang setara dengan batik tulis, warna yang cerah serta warna yang tahan lama dan tentunya dengan proses produksi yang lebih cepat.
Bahkan, keberhasilan inovasi batik bermerk LPL tersebut kedepan produknya berharap tak hanya dipasarkan di pasar lokal saja melainkan akan dibidik pasar ekspor di Dubai Arab Saudi dan Malaysia. "Ke depan saya akan ekspor batik ini ke Malaysia dan Dubai. Namun, kami baru menunggu proses hak paten dari Indonesia dan Malaysia. Agar ke depan produk ini tidak bisa diklaim oleh negara manapun. Melainkan tujuan kami, batik ini bisa lebih dikenal negara lain sebagai produk khas Indonesia," jelasnya.
Sementara itu, Manajer Muri Paulus Pangka mengatakan kegigihan Ir Ignatius Hermawan boleh diacungi jempol. Karena selama 25 tahun ia menekuni batik cap hingga bisa menciptakan teknik duplex printing adalah bukan hal mudah. Proses demi proses ia lalui hingga kini ia menemukan kesempurnaan batik dua sisi yang presisi. "Dan sampai saat ini MURI mengklaim batik LPL adalah batik pertama yang diprint dua sisinya sama presisi yang pertama di Indonesia sehingga kami memberikan penghargaan MURI," jelasnya.